Kisah ini saya ceritakan berdasarkan
pengalaman teman saya. Teman saya yang sedang menempuh kuliah di salah
satu universitas swasta di Kota Bandung baru saja mengikuti kegiatan
ospek di Bumi Perkemahan Gunung Puntang Kab. Bandung yang dekat sekali
dengan Pangalengan tempat penghasil susu yang sudah terkenal di skala
nasional.
Tempat perkemanahan itu dingin, indah dan
sangat bersejarah. Tempat itu dulu pernah menjadi saksi kebesaran
bangsa Belanda yang menajajah tatar sunda saat zaman kolonial dan
penjajahan dulu.
Tempat itu dulu sempat dibangun gedung radio terbesar se-Asia Tenggara dan siarannya sampai ke negeri Belanda.
Tempat itu sangat strategis dan titik koordinatnya sangat pas bila
dihubungkan langsung dengan negara Belanda. Hal itu pulalah kenapa
dibangun stasiun radio itu disana.
Teman saya bersama rombongannya tiba
disana saat maghrib menjelang. Saat tiba dsana ia melihat banyak sekali
orang berkulit putih dan tinggi besar dengan pakaian aneh dan berbeda
dengan pakaian orang-orang yang ada di tempat kemah tersebut, temanku
berkata pakaian mereka putih-putih dan krem khas pakaian meneer dan noni
Belanda.
Ia sadar “mereka” bukanlah manusia namun
mereka yang tinggal disana sudah sejak lama sekali. Teman saya bersama
rombongannya berkemah disalah satu tempat disana yang dekat sekali denga
Goa Belanda yang terdapat di area perekamahan itu.
Saat malam menjelang teman saya melihat
banyak sekali beberapa kepala yang bergeletakan, tak hanya kepala namun
potongan kaki dan tangan yang bersimbah darah terlihat memenuhi area di
sekitar bekas reruntuhan rumah para warga Belanda yang tinggal saat itu.
Ia melihat banyak pula ditempat itu para
pribumi Indonesia yang dipekerjakan rodi (kerja paksa zaman Belanda)
dengan tubuh mereka yang kurus kering seperti tidak diberikan makanan
dan mereka terdengar merintih kesakitan dan meminta tolong.
Malam itu ia mencoba berjalan ke depan
pintu Goa Belanda dan ia melihat sosok hitam besar yang menutupi Goa
itu. Orang-orang sering menyebutnya sebagai sosok Genderuwo.
Ia masuk sedikit kedepan mulut Goa dan ia
melihat di Goa itu banyak kepala tanpa tubuh dengan darah dan bau anyir
menyeruak dari dalam sana. Ia menangis karena melihat banyak pribumi
yang kulitnya coklat seperti kita yang disiksa disana.
Mereka semua dipaksa untuk memahat batu
dan bukit itu menjadi Goa dengan peralatan seadanya dan berbeda dengan
peralatan zaman sekarang. Tangan mereka terus dipaksa untuk bekerja
lebih keras, jika melawan mereka akan dibunuh ditempat itu.
“Tolong, tolong kami!” mereka terus
berkata kepada teman saya. Ia pun akhirnya pergi dari tempat itu karena
sedih melihat penderitaan yang mereka alami disana. Saat ia mulai
melangkah sosok kepala itu berada tepat didepannya. “Tolong saya,
dekatkan kepala ini dengan tubuh yang ada disampingnya!”. Dengan rasa
takut dan gemetar ia pun mengambil potongan kepala itu dan menyatukannya
kembali dengan potongan tubuh yang tak jauh dari potongan kepala itu.
Ia pun pergi dari area Goa itu dan ia
berjalan menuju reruntuhan bekas rumah warga Belanda yang dikelilingi
oleh pohon pinus. Namun ia melihat sosok Belanda berkulit putih lengkap
dengan pakaian khas ala kolonial.
“Dulu reruntuhan ini adalah rumah kami,
keluargaku dibantai habis oleh tentara Nippon yang bermata sipit dan
putih. Tiba-tiba saja saat ia melihat ke arah reruntuhan rumah itu
sebuah kepala menggelinding tepat didepannya. “Tolong ambilkan kepalaku
yg terjatuh!”. Sosok yang mengajaknya berbicara itu berkata kepada
temanku.
Teman saya lantas berlari pergi ke tempat
yang lain, ia masuk ke bangunan seperti kolam yang berbentuk hati.
Banyak orang sekitar menyebutnya sebagai “Kolam Cinta”. Disana banyak
sekali dengan darah, ia melihat banyak mayat yang dibuang disana.
“Ini adalah kami yang tidak sempat
melarikan diri dari mereka, Nippon menghancurkan semuanya. Rumah yang
kami tinggali dan gedung radio yang megah ini. Lihatlah gedung itu kini
hancur dan hanya menyisakan puing-puing saja!”
“Inikah radio terbesar itu se-Asia
Tenggara itu?, kalian tinggal disini sekarang?” Teman saya berkata
kepada salah satu dari “mereka” yang memakai pakaian meneer Belanda.
“Iyaa kami tinggal disini kini, kami
masih cinta tempat ini dan kami masih bisa merasakan kebesaran dan
kekokohan bangunan ini. Kami membangunnya bersama bangsamu dulu dan kami
ingin menjaga tempat ini. Tapi kami sangat tidak suka bila ada dari
bangsa kalian yang datang hanya untuk merusak dan melakukan hal yang
tidak baik dsini. Ini adalah tempat yang kami jaga dan kami sukai!”
“Maafkan jika teman-teman saya yang
datang dengan bertindak tidak sopan saat kesini. Aku berjanji akan
bilang kepada teman-temanku untuk tidak merusak tempat yang indah ini”.
Ia berbicara dengan “mereka” yang disana.
Teman saya akhirnya pergi meninggalkan
tempat itu dan pergi menuju kemah. Ia tahu “mereka” masih disana hingga
kini dan menjaga tempat milik “mereka” yang indah itu.
Keesokan harinya ia bertanya kepada
pemilik warung yang ada disana tentang tempat lokasi kemah itu. Dan
memang benar dulu disana banyak terdapat bangunan Belanda seperti rumah
yang kini terlihat hanya puing-puing seperti tembok rumah dan beberapa
bekas kamar mandi dan WC duduk yang masih bisa terlihat disana.
Si pemilik
warung pun berkata kepada teman saya agar tidak “sompral” (berkata
kasar/jorok) disini. “Mereka” akan berperilaku baik asalkan kita tidak
menggangu dan merusak bangunan yang ada disana dan benda cagar budaya
yang kini dilindungi oleh Pemerintah. Intinya adalah kita harus saling
menghormati saja.
Hingga
kini puing-puing sisa bekas rumah, Goa Belanda, kolam cinta dan sisa
bangunan radio terbesar se-Asia Tenggara itu masih ada disana. “Mereka”
memiliki kisah sendiri yang pilu jika kamu ingin mendengarnya. Datanglah
kesana dan sapalah mereka!!
Jangan takut untuk datang dan berkemah ke
Gunung Puntang. Nikmati sisa-sisa sejarah bangsa kita. Jaga semua hal
yang ada disana dan berperilakulah baik kepada peninggalan sejarah, alam
lingkungan dan termasuk “mereka”.